Surat Terbuka untuk Cinta Pertama, Semoga Kau Bisa Tersenyum Kembali Seperti Sedia Kala

Sebagai seorang kepala keluarga, engkau telah banyak berjasa bagi kehidupan keluarga kecilmu ini. Jarang sekali kau memperlihatkan  kelemahanmu di depan  kami. Yap, menurutmu berkecil hati dan mengeluh bukanlah cara yang tepat untuk menghadapi berbagai macam persoalan seputar  kehidupan  yang  sedang  menimpamu. Maka tak heran, jika kami yakni anak-anakmu ini sering menjadikanmu sebagai panutan bahkan selalu menginspirasi pada setiap keputusan yang kami buat seorang diri.

Sikap bijakmu tentunya didapatkan dari perjalanan panjang dan rentetan pengalaman pribadimu dulu yang telah kau lalui di masa lalu.  Ketika kami masih balita, kau mengayomi kami dengan lembut penuh kasih sayang. Tangisan kami pada malam hari sering membangunkanmu dari lelapnya tidur setelah seharian mencari nafkah untuk keluarga kecilmu ini. Tanpa kenal lelah, kau dan ibu segera bergegas melawan rasa kantukmu supaya kami berhenti menangis dan tenang kembali.

Meskipun lelah setelah seharian bekerja, kau dan ibu tak berniat untuk melanjutkan tidurmu kembali. Sebelum rengekan kami kembali mereda bahkan hingga tertidur dengan pulas. Ya, ibu memang wanita beruntung memilikimu disisinya. Sebab kau sering bertukar peran dengan beliau perihal merawat dan mengasuh kami.

Apalagi mengurus keperluan rumah tangga, kau juga sanggup melakukan itu. Walaupun sejatinya ibu yakni seorang ahlinya multitasking, kau juga mampu mengimbangi beliau perihal urusan rumah tangga dan mengasuh anak-anakmu pada saat yang sama. Sikap nakal kami tak mempengengaruhi dirimu untuk bersikap emosional. Ringan tangan, bukanlah cara didikmu menghadapi kami.

Sedari kecil kami mendapatkan perlakuan yang jauh dari kata manja bagi anak seumuran kami. Berbekal pengalamanmu sebagai seorang perantau dari luar pulau di sebelah timur wilayah negeri ini, yang hijrah ke kota besar demi mencari peruntungan disana. Diam-diam pelajaran yang kau peroleh dari hal tersebut,  kau aplikasikan pada anakmu ini.

Ya, salah satu sikap yang paling menonjol ialah mandiri dan bertanggung jawab dari pribadi dirimu. Terbiasa mandiri sebagai seorang perantau nan jauh dari kasih sayang keluargamu. Otomatis mengharuskanmu, untuk selalu bertanggung jawab atas keputusan yang telah kau buat sebelumnya.

Sayangnya, di usiamu yang sekarang ini mulai mengharuskanmu untuk terbaring di atas sebuah matras kecil dengan berbalut selimut hangat. Ya, dikarenakan saat ini kau sedang mengidap suatu penyakit yang bisa merenggut tubuhmu itu secara perlahan. Semua itu berawal dari kesukaanmu memakan makanan manis ketika masa remaja dulu.

Benar saja salah satu bagian tubuhmu yang dihilangkan oleh seorang dokter spesialis bedah. Sudah menjadi bukti yang kuat, atas seberapa berbahayanya penyakit yang dideritamu saat ini. Terkadang, salah satu dari kami tak sengaja melihatmu meneteskan air mata dikala pasca operasi tersebut.

Padahal, kau sudah berusaha menutupi kelemahanmu dengan beragam sikap kuatmu menghadapi peliknya kehidupan. Namun apa daya jika tangisanmu, akhirnya  tak sanggup lagi terbendung oleh canda tawamu. Sepertinya ini saatnya bagi anak-anakmu untuk membuatmu agar tersenyum kembali seperti sedia kala.

Tenang saja ayah, sebab mulai hari ini kau bisa mengandalkan kami. Untuk menggantikanmu meneruskan semangat keluarga kecil kita. Tentunya,  kami juga tak ingin merepotkan ibu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

I am slide content. Click edit button
luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus.