Diduga Kurangnya Pengawasan Proyek Pengaspalan Jalan Nasional Bangka Belitung .PPK.1.2 di Pertanyakan Masyarakat,Pelaksana PT. Putra Bangka Barat.

Tipisnya hasil Pekerjaan Pengaspalan Jalan yang dikerjakan PT.Putra Bangka Belitung  membuat masyarakat bertanya ,Diduga tipisnya aspal tersebut  diduga kurangnya pengawasan di lapangan.

​1. Ringkasan Isu Utama (Polemik di Masyarakat)

Babel.Jurnalisia.Com—- Menyoroti keluhan dan sorotan tajam dari aktivis serta masyarakat mengenai proyek pengerjaan jalan nasional di Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung. Masyarakat mempermasalahkan ketebalan aspal yang dinilai “tipis” karena hanya dipatok setebal 5 sentimeter (cm). Bahkan, pada beberapa titik sambungan di lapangan, aspal terlihat jauh lebih tipis sehingga memicu kecurigaan bahwa proyek tersebut tidak sesuai spesifikasi atau terkesan asal-asalan.

Proyek Milik Kementerian Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Bina Marga, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Bangka Belitung, Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I Provinsi Bangka Belitung.

Nama Kontrak: Rehabilitasi Jalan dan Jembatan Tanjung Kelian – Ibul, Puding Besar (Sp. Belinyu) – Puding Besar – Bts. Kota Pangkalpinang.

Nomor Kontrak: HK0201/B/BPJN7.5.2/2026/436.

Tanggal Kontrak: 13 Februari 2026.

Nama Satuan Kerja: SATKER PJN WILAYAH I PROV. BANGKA BELITUNG.

Nama Pejabat Pembuat Komitmen: PPK 1.2 PROV. BANGKA BELITUNG.

Sumber Dana: APBN 2026.

Nilai Kontrak: Rp 11.388.563.000,00 (Sebelas miliar tiga ratus delapan puluh delapan juta lima ratus enam puluh tiga ribu rupiah).

Panjang Efektif: 1,300 KM.

Masa Pelaksanaan: 180 (Seratus Delapan Puluh) Hari Kalender.

PHO: 16 Agustus 2026.

Masa Pemeliharaan: 365 (Tiga Ratus Enam Puluh Lima) Hari Kalender.

Rencana FHO: 16 Agustus 2027.

Nama Penyedia Jasa: PT. PUTERA BANGKA BARAT.

Konsultan Supervisi: PT. RAVINO CITRA MANDIRI KSO PT. CINIATAMA NUSAWIDYA CONSULT.

​2. Klarifikasi dan Penjelasan Teknis dari BPJN Babel

​Untuk merespons kegaduhan tersebut, Balai Pengelolaan Jalan Nasional (BPJN) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memberikan klarifikasi ilmiah dan teknis melalui Kasatker BPJN Babel (I Ketut Payun Astapa) dan PPK 1.2 (Dina). Berikut adalah poin-poin pembelaan teknis mereka:

Bukan Keputusan Asal-asalan: Penentuan ketebalan 5 cm didasarkan pada perhitungan matematis yang mengacu pada data survei resmi, yaitu Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR) dan Indeks Kemantapan Jalan (IRI). Usulan ini digodok dan disetujui di tingkat kementerian.

Fungsi Lapisan Lapis Aus (AC-WC): Aspal setebal 5 cm tersebut difungsikan sebagai Asphalt Concrete – Wearing Course (AC-WC) atau lapis permukaan/aus. Lapisan ini memang didesain bukan sebagai struktur utama penahan beban berat, melainkan pelindung lapisan di bawahnya dengan target masa pakai tertentu (misal: 10 tahun).

Karakteristik Beban Jalan di Babel Rendah: Volume kendaraan dan beban muatan di Bangka Belitung tergolong rendah jika dibandingkan dengan jalur logistik utama seperti Jalur Pantura (Jawa Timur/Jawa Barat) atau daerah industri seperti Palembang yang sering dilalui kendaraan Over Dimension Over Load (ODOL). Oleh karena itu, ketebalan aspalnya tidak bisa disamakan dengan daerah-daerah padat tersebut.

Tingkat Kemantapan Jalan Tinggi: BPJN mengklaim tingkat kemantapan jalan nasional di Babel saat ini sangat tinggi, mencapai 99,8 persen. Artinya, mayoritas kerusakan hanya terjadi di lapisan paling atas (permukaan), bukan pada struktur dasar jalan. Sehingga perbaikan cukup berfokus pada pelapisan atas (overlay).


​3. Menjawab Misteri Aspal yang Tampak “Kurang dari 5 Cm” (Metode Tapering)

​Salah satu poin paling krusial dalam berita ini adalah penjelasan mengenai bagian sambungan jalan yang viral karena terlihat sangat tipis.

​BPJN menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan penerapan metode teknik sipil yang disebut tapering (penipisan bertingkat).

Tujuan Tapering: Metode ini sengaja diterapkan demi keselamatan pengguna jalan ketika proses pengaspalan baru dilakukan di setengah badan jalan.

Cara Kerja: Karena aspal baru akan membuat permukaan jalan naik 5 cm dari jalan lama, pinggiran sambungannya sengaja dibuat miring atau ditipiskan secara perlahan (tapering). Hal ini dilakukan agar kendaraan tidak tersentak, oleng, atau terjatuh saat berpindah jalur dari aspal lama ke aspal baru.

Status Anggaran: Bagian tapering yang landai ini merupakan metode kerja sementara di lapangan dan tidak masuk dalam hitungan komponen yang dibayar oleh negara, sehingga tidak merugikan keuangan negara. Bagian inilah yang sering difoto warga dan viral di media sosial karena salah paham.


​4. Alokasi Anggaran dan Kebijakan Skala Prioritas

​Merespons tuntutan warga yang ingin dilibatkan dalam proses survei awal, BPJN memaparkan bahwa penentuan skala prioritas perbaikan jalan sepenuhnya diatur oleh pemerintah pusat berdasarkan parameter digital nilai IRI (skala 1 hingga 16). Karena kondisi jalan di Bangka Barat dinilai masih sangat baik, alokasi anggaran dari APBN tentu akan lebih diprioritaskan untuk wilayah lain di Indonesia yang mengalami rusak berat.

​Kesimpulan Analisis

​Foto dan berita ini menunjukkan adanya kesenjangan komunikasi (misscommunication) antara persepsi visual masyarakat dengan prosedur teknis teknik sipil.

Masyarakat melihat aspal 5 cm dan bagian sambungan yang menipis sebagai indikasi kecurangan proyek. Namun, secara teknis dinas terkait (BPJN) mampu membuktikan bahwa ketebalan tersebut sudah sesuai dengan kebutuhan volume kendaraan di wilayah tersebut, dan bagian yang sangat tipis di sambungan jalan merupakan metode keselamatan (tapering) yang sah secara ilmu teknik sipil. Di akhir berita, pihak BPJN juga berkomitmen untuk lebih transparan dan rutin mengedukasi publik terkait proses teknis infrastruktur ke depannya.(Hasmi)

Penulis

Hasmi Chaniago
Hasmi Chaniago
Wartawan Senior

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top